Persembahan Janji Terkahir

Cerpen oleh : Sang Zundi Khatulistiwa (18 Rajab 1432 H)

Persembahan Janji Terakhir | Ilustrasi | sumber google

"A, tadi siang Neng udah dikhitbah." seketika HP yang semula digenggam Zain jatuh menghujam lantai. Seakan ia tak percaya mendengar kabar bak halilintar. Nafasnya terhenti mulutnya pun terkunci. sementara hatinya menjerit dalam kecamuk sesal dan amarah. Marah kepada dirinya yang tak kunjung mampu menjemput separuh asanya. Dan kini harapan itu telah pergi bersama tetesan air mata yang melucur jatuh dengan ikhlas. Pecah dan hilang kala menghatam ubin yang dipijakinya.

Sementara dari ujung spiker HP yang tergeletak bebas di samping kaki kirinya, masih terdengar suara Uci memanggil-manggil tanpa ada respon. “Hallo A… Halloooo A… A Zain, masih di situkan? A, Zain… A?”

Usaha Uci yang tak mudah patah arang, mampu mengembalikan Kesadaran Zainur Rofiq dari keterkejutannya. Astaghfirulloh, itulah suara berat dengan hela nafas yang dalam menjadi tanda kembalinya kesadaran Zain. Lalu ia sambar dengan sigap HP dari bawah kaki kirinya, meski dirinya pun tak yakin apakah ia masih mampu berkata-kata dalam kenyataan pahit ini.  Karena Zain merasa sangat hancur dengan kabar tersebut. Bukan hanya karena ia tak kuasa harus kehilangan Uci, gadis yang telah ia kenal ketika mereka masih sama-sama satu sekolah dulu. Namun terlebih karena Zain merasa sangat berdosa tak mampu memenuhi janji yang telah terikrarkan. Janji sakral akan meminang Uci selepas Uci lulus dari sekolah.

Itulah janji sakral Zain kepada Uci yang ia sampaikan melalui suratnya 3 tahun lalu. Meski akhirnya Zain mengakui dan menyadari bahwa itu adalah satu kekeliruan dan kesalahan fatal. Karena dengan janji itu pasti ia telah menimbulkan gharizun na’u dalam hatinya dan hati Uci. Panah-panah syetan telah ia lesahkan di antara hari-hari  Uci yang masih membentang ke depan. Tapi mau bagaimana lagi, “Nasi sudah ditanak dan menjadi masak”. Janji sudah terucap mengikat pertanggungjawaban yang teramat berat. Jika janji dicabut begitu saja maka kesalahan pun akan bertambah.  Maka janji itu harus ia penuhi tanpa harus melumurinya dengan kemaksiatan.

Dan Zain berfikir kesalahan harus ditebus dengan amal sholeh, sebuah dosa yang dilakukan atas dasar khilaf harus segera diikuti dengan kebajikan serta taubat yang mendalam. Kesalahan itu harus diganti dengan kebaikan di sisi Alloh dan di sisi semua ciptaan-Nya di semesta raya ini. Semenjak hari diucapkannya janji itu Zain hanya sekali lagi menghubungi Uci via suratnya. Zain jelaskan bahwa ia takkan mengganggu dan menghubungi Uci lagi. Bukan karena ingin lari dari janjinya. Tapi demi sama-sama menjaga kondisi hati mereka dari serbuan buaian indah bisikan syetan tentang cinta dalam kasmaran. Demi sebuah keselamatan dunia akhirat mereka berdua. Dan Uci pun paham bahwa haram dua insan menjalin relasi hati tanpa akad pernikahan. Apa pun bentuk dan alasannya.

Tiga tahun sudah berlalu, menahan semua desakan hasrat cinta yang masih terbentengi syariat. Mereka sama-sama mampu dewasa dan taat pada hukum pergaulan Islam yang dibebankan kepada mereka sebagai mukhalaf. Tak sepatah kata pun mereka betegur sapa selama tiga tahun. Dan tak seujung mata pun mereka larut dalam saling pandang dalam tatapan haram yang melenakan. Meski kesampatan-kesempatan itu selalu ada.  Mereka kuat dan tangguh membentengi diri dari kehinaan tipu daya cinta hasutan syetan. Dan pikiran itulah yang semakin menjadikan Zain merasa paling berdosa tak mampu memenuhi janjinya. Ia merasa dua kesalahan telah ia lakukan setelah mendengar kabar dari Uci barusan. Ia telah gagal memenuhi janjinya.

Barokallah Ci, barokalloh ya. Semoga prosesnya lancar,” Zain mengucap doa dengan suara yang masih terdengar bergetar. Ia pun seakan tak percaya kenapa dirinya selemah sekarang. Padahal dirinya paham bahwa ini sudah kehendak Allah dan harus diterimanya dengan penuh keridhoan. Apalagi dirinya juga adalah seorang yang rutin melatih fisiknya dengan beladiri. Ia merasa tak sepantasnya dirinya serapuh sekarang. Zain memejamkan dan menahan nafas sekuat tenaga. Seraya berteriak kencang dalam hatinya, Aku harus tegar.. Aku harus kuat… Aku  harus ikhlas! Kata-kata itu terus ia teriakan bertubi-tubi.

Amien A. Alhamdulillah atas doanya. Maafin Uci yang enggak bisa terus menunggu Aa. Uci sudah lulus dari enam bulan yang lalu, tapi Aa enggak pernah datang untuk memenuhi janji. Bahkan kabar pun tak ada. Dan siang tadi Uci enggak punya alasan yang syar’i untuk menolak pinangan Ustadz Hamdan  ….”

Lagi-lagi Zain terkejut bukan kepalang mendengar punuturan suara Uci di ujung telinganya. Rangkain kata-kata Uci kembali membuat Zain terdiam dalam kesesakan dan ketidak percayaan. Ternyata Ustadz Hamdanlah yang telah meminang Uci mendahulinya itu. Sahabat dekat yang sangat karib sekaligus Kakak kelasnya waktu belajar dulu. Yang membuat Zain seakan tidak percaya adalah jika memang benar Mas Hamdan yang telah meminang Uci, mengapa Mas Hamdan tidak menceritakan kepada dirinya sebelumnya, bahwa wanita yang akan ia pinang adalah perempuan yang ia ingini. Zain berfikir bukankah mereka berdua selalu bersama. Bukankah kedekatan mereka sudah tidak diragukan lagi. Bahkan hubungan mereka berdua sudah melebihi dari saudara kandung kandung kakak beradik. Tidur dan makan mereka bersama, bahkan dirinyalah yang selalu mendampingi Mas Hamdan jika sedang ada tugas dakwah di luar daerah. Kalau saja Mas Hamdan menceritakan perempuan yang akan dikhitbahnya siang tadi itu adalah Uci, mungkin ia tak akan seterkejut ini. Zain berfikir mungkin ia akan lebih bisa tegar dan mampu menerima semuanya karena telah menata hati terlebih dahulu sebelum menerima kenyataan ini. Dan ia pun tidak akan menolak saat diajak ikut untuk mengahadiri acara khitbah tersebut. Zain memang selalu menolak jika diajak untuk terlibat dalam acara-acara seperti itu. Ia beralasan agar ia tidak mudah terprovokasi untuk mengikut jejak untuk mengkhitbah akhwat sampai mampu mengkhitbah Uci. Zain tertunduk sesaat dalam pilunya. Zain menyesal!

Tapi Zain segera bangkit kembali, ia rasa tidak ada yang perlu diratapi. Tidak semestinya ada rasa sesal dan pikiran yang macam-macam dalam benak dan pikirannya. Karena benar apa yang dikatakan Uci, tidak ada alasan untuk menolak pinangan seorang seperti Mas Hamdan. Laki-laki paripurna dalam segala-galanya. Wajahnya tampan dan menawan, semua wanita pasti menancapkan pandangan di dataran wajah Mas Hamdan. Aqidah Islamnya lurus pada Al-Quran dan sunnah yang shohih, ilmu keislaman dan wawasannya pun tidak perlu diragukan lagi. Apalagi Mas  Hamdan telah sukses pula dalam urusan bisnis ma’isyah keduniaannya. Uci sangat beruntung telah dipinang Mas Hamdan, dan Mas Hamdan pun telah memilih pendamping yang tepat. Uci adalah seorang perempuan muda nan cantik, pintar dan enerjik. Serta kesholehannya pun tiada bandingannya di zaman amburadul seperti sekarang ini. Meraka pasangan yang cocok dan sangat ideal. Begitulah akhir kesimpulan dari pikiran Zain yang menjadi penawaran bagi hasutan negatif dalam hati dan jiwanya.

Zain segera mengucapkan kata-kata penutup di ujung telponnya untuk Uci. Ia tidak ingin berlama-lama mendengar suara Uci, karena akan semakin memperlebar peluang para iblis untuk menggelincirkannya lagi. Berkali-kali Zain mengucap doa untuk Uci, dan Uci pun tak sungkan untuk membalas doa tulus ikhlas dari seorang Zain yang sangat berlapang dada dan dewasa. Maka kalimat salamlah yang mengakhiri kontak suara mereka berdua sore itu. Zain pun berjanji dalam dirinya akan membantu perisapan pernikahan Mas Hamdan dan Uci sekuat kemampuan yang ada padanya. Zain mengikat ikrar tidak akan bertanya dan bercerita macam-macam demi menjaga perasaan Mas Hamdan. Ia akan berusaha bertindak sewajarnya, ia pun berdoa semoga Uci pun begitu.

****

Tiga bulan berjalan tanpa terasa. Hari pernikahan Hamdan dan Uci semakin dekat saja. Segala persiapan yang berhubungan dengan acara akad dan walimah Hamdan dan Uci hampir rampung diselasaikan. Dan salah satu yang paling sibuk selain Hamdan dan Uci adalah Zain. Malah Zain bisa dikatakan yang paling mobile dan aktif dalam menjalankan semua tugas yang telah dibagi sama-sama. Hal itu membuat Zain menjadi begitu sangat sibuk satu pekan belakangan ini. Karena Zain harus menyelesaikan begitu banyak tugas sesuai apa yang telah ia sanggupi dan ia minta. Dari urusan surat menyurat dengan petugas KUA setempat, urusan mencetak dan mendistribusikan udangan pernikahan sampai urusan seting tempat untuk acara walimahnya. Dan tugas-tugas lainnya dibagi lagi antara Hamdan dan Uci bersama keluarganya masing-masing. Kali ini Zain sangat puas dan bersyukur kepada Allah. Karena dirinya mampu memenuhi janjinya untuk mebahagiakan Hamdan dan Uci. Setidaknya itulah yang bisa ia lakukan dan ia persembahkan.

Sementara Hamdan sebagai calon mempelai tak kalah sibuk dengan sahabat karibnya, Zain. Karena selain ia sibuk dengan segala pernikahannya dengan Uci, Hamdan pun harus tetap menunaikan tugasnya. Ia harus tetap mengajar di Yayasan pendidikan Al-Quran yang ia kelola bersama Zain. Ia pun harus tetap mengisi kajian di tempat-tempat yang telah di jadwalkan. Semangat Zain dan ketulusnya dalam bekerjalah yang dijadikan cambuk oleh Hamdan agar tidak pernah merasa lelah dan lemah dalam mengahadapi kegiata extra padat belakangan ini. Hamdan berfikir, Zain saja yang bukan punya acara bisa melakukan semuanya tanpa harus meninggalkan tugas ngajar dan bekerjanya dia. Lalu kenapa ia yang punya kepentingan di dalamnya harus kalah oleh Zain sahabatnya. Maka Hamdan pun tetap antusias dan penuh kesungguhan menjalankan semua tugasnya.

Seperti hari ini, ketika sudah hanya tinggal tiga hari dari pernikahannya. Hamdan masih memenuhi jadwal kajiannya di luar kota. Dengan ditemani Zain, Hamdan berangkat dari Jakarta menuju Banten dengan mengendarai Honda Jazz merah miliknya. Renyah canda tawa yang terselipi saling tawsyiah menghiasi perjalan dakwah mereka berdua. Hamdan dan Zain berencana akan saling bergantian menyetir mobil agar keduanya tidak mudah lelah sesampainya di lokasi acaranya.

Mobil mereka yang melesat dengan kecepatan sedang hampir sampai di kawasan tol Tangerang. Namun sepertinya ada yang tidak beres dengan perjalanan mereka kali ini. Setidaknya itulah yang mereka rasakan. Karena sedari mereka keluar dari komplek Yayasan mereka seperti dikuti oleh dua minubus pabrikan jepang.  Dan apa yang mereka rasakan ternyata tidak meleset. Petaka itu baru saja dimulai. Mobil yang mereka tumpangi di pepet terus mendekati bahu jalan tol oleh salah satu dari minibus yang sejak tadi membuntuti mereka. Sementara sebuah sedan yang awalnya melaju kencang menyalip mereka, tiba-tiba bermanuver di depan mereka. Sedan itu seketika melambatkan lajunya, hingga memaksa Hamdan yang tengah menyetir itu menginjak rem agar tak menabrak. Seorang dari dalam minibus berteriak agar Hamdan berhenti dan menepikan mobilnya. Namun belum juga Hamdan menepikan mobilnya ke pinggir dari bahu jalan tol, sebuah minibus lainnya sudah menabraknya dari belakang dan memaksa berhenti sektika dan menumbuk pagar pembatas.

Doooor! tiba-tiba saja saja terdengar suara tembakan melesat. Hamdan tersentak dan Zain sigap bertiarap di bangkunya sambil menutup telinganya.

“Ada apa ini Mas?” tanya Zain kaget.
Wallohu ‘alam Zain, Ana juga tak paham. Kita berdoa dan hadapi saja ujian ini.”

Lalu kemudian perbincangan Hamdan dan Zain terhenti saat terdengar lagi suara berondong tembakan. Peluru-puluru itu menancap melukai body belakang mobil Hamdan. Hamdan dan Zain semakin bertiarap agar tak terkena lesahan puluru. Merka bertakbir dan memohon perlingungan kepada Alloh. Namun tiba-tiba saja, pintu samping setir mobil yang diduduki Hamdan dibuka oleh seorang yang berpakaian lengkap dengan senjata dan granatnya yang menjadi penghiasan kegagahan mereka. Hamdan dan Zain makin terkejut, tapi kali ini meraka sudah tahu sedang berhadapan dengan siapa.

Braaaar, kaca depan mobil dihantam salah satu mereka yang berjumlah berlasan hingga pecah. Intimidasi yang dihadapi Hamdan Zain sunggu sangat luar biasa. Belum ada pertanyaan dan surat resmi sudah main dar der dor begitu saja.

Lalu Hamdan ditarik hingga tersungkur di aspal. Sementara Zain digarap pasukan lain dengan dipukuli dengan menggunakan tangan dan bagian belakang senjata. Mereka berdua telah babak belur dan tak berdaya. Dan setelah Pasukan khusus itu tahu yang mana Hamdan, maka mereka langsung memasukan Hamdan ke dalam salah satu mobilnya. Sementara Zain dibiarkan tergeletak di samping Honda Jazz yang sudah berbercak peluru.

Hamdan kini ditahan oleh pasukan khusus itu di markas besar kemiliteran dengan tuduhan menjadi penggagas dan inisiator gerakan-gerakan fundamentalis. Padahal tuduhan itu sama sekali tidak berdasar. Hamdan hanya menjadi seorang pendakwah menyampaikan kebenaran yang dikatakan Al-Quran dan sunnah Rosul-Nya. Namun tuduhan itu telah terlanjur menujuk hidung Hamdan. Penyiksaaan dan intimidasi pun telah dilakukan. Pasukan Khusus tidak mau tau dengan proses pemerikasaan yang adil dan sesuai prosedur. Pasukan Khusus pun tidak mau tau kalau hari esok adalah hari pernikahan Hamdan dengan Uci. Yang penting mereka memuluskan hasrat bos besar mereka untuk melumpuhkan orang-orang yang sudah menjadi target.

Waktu Dhuha telah hampir berlalu, terik Jakarta bagai menyileti pori-pori. Namun tidak sedikit pun menyurutkan niat Zain untuk segera menjenguk sahabat karibnya untuk memastikan keadaannya. Meski kondisi fisik Zain masih penuh dengan luka, hal itu tidak mengahalanginya untuk menemui Hamdan.  Tepat Jam sebelas siang, Zain mampu menembus barikade puluhan pasukan dan prosedur yang akal-akalan. Siang itu Zain menangis dalam tak kauasa melihat Hamdan. Hamdan yang besok akan menikah, kini wajahnya lebam-lebam bekas dihajar habis-habisan. Apalagi terlihat tempuruh dilututnya nampak bergeser. Namun Hamdan tetap tegar dan kuat. Malah ia masih bisa menasehati Zain yang tengah tersungkur dalam pelukannya.

“Zain, ini adalah resiko sebuah perjuangan dakwah kita menyelematkan manusia dari kejahiliahan. Zain, kamu harus tabah dan tegar, karena musuh-musuh Allah tidak akan pernah senang dan berbaik hati kepada kita jika kita menyampaikan kebenaran. InsyaAllah Zain, semuanya akan baik-baik saja. Hasbunalloh wani’mal wakil…!”

InsyaAllah Mas…. Tapi bagaimana dengan pernikahan Mas Hamdan? Bukankah pernikahan itu besok?”

“Zain, semua persiapan pernikahan Ana dengan Uci sudah 100% dan matang. Sudah tidak mungkin dibatalkan dan diundur, karena udanngan sudah tersebar, makanan pun pasti telah dimasak. Keluarga Ana dan Uci baru tau dengan semua ini satu jam yang lalu Zain. Jadi tolong gantikan Ana untuk menikahi Uci ya Zain.” suara Hamdan terdengar sangat mantap sekali mengatakan itu semua.

Hamdan tidak sedikit pun terlihat goncang jiwanya, bahkan ia terlihat semakin mantap dalam tasbih dan melafalkan kalimatulloh. Sementara Zain tidak setegar Hamdan, matanya berkaca-kaca, pelukannya semakin kencang mendekap sahabatnya itu. Mendengar permintaan Hamdan, Zain sama sekali tidak bahagia. Sementara ia juga bingung harus berkata dan berbuat apa. Karena yang dipaparkan saabatnya barusan memang begitu adanya.

“Tapi Mas…” kata-kata Zain terpotong.
“Tolonglah wahai Saudaraku, Ana kenal siapa Antum, Zain. Ana percaya Antum mampu. Sudahlah, kita sama-sama buang pikiran yang akan memperberat langkah kita. Kini saatnya kita berdua membuktikan persaudaraan kita sampai pada tafahum, ta’awun dan takaful, Zain. Zain, Antum genggam janji ini ya. Antum jaga Uci dalam tali syariat yang suci.”
“InsyaAllah, Mas!”
Alhamdulillah…., Zain!”

Zain samakin tenggelam dengan semua kata-kata sahabatnya. Hamdan pun mengerti betapa berat dan serba salahnya posisi Zain pada saat ini. Maka Hamdan tak ingin mengehentikan barang sedikit saja usapan tangannya di punggung Zain yang begitu tersedu. Allohu Akbar! Tiba-tiba mereka kompak bertakbir tanpa komando dalam suara yang terdengar begitu lirih. Menandakan hati mereka berdua telah melebur jadi satu dalam rasa yang saling merasakan satu dan lainnya.

*Mohon maaf atas segala kekuranan dan segala kekeliruannya, mohon dimaklumi sebab yang nulis baru belajar bikin cerpen dan pengetahuan tentang Islamnya pun serta wawasanya sangat terbatas. Nulisnya pun ngibrit dua jam saja hehe (rebutan sama deadliine nyelesaian Novel :D) ..... Moga bermanfaat buat semua aja ^,^

Tidak ada komentar

Hikmah dalam kata akan terkenang sepanjang massa. Sertakan Komentar Anda. (Perkataan yang Tidak Sopan Tidak Akan Ditampilkan)

Diberdayakan oleh Blogger.