[Kisah Romantisme Dalam Islam] Mencium Istri Saat Berpamitan Ke Masjid Adalah Sunnah

Alkisah ada seorang ibu memaparkan keluahannya kepada seorang Ustadz begini :
Ibu itu bercerita heran dengan suaminya yang tidak mau bersentuhan dengan sstrinya jika setalah wudhu. Dia marahi Istrinya dengan sangat luar biasa karena membuat batalnya wudhu.

Dalam hati Ustadz juga bingung Apakah beliau ini tidak tahu jika Rasululloh MENCIUM kening 'Aisyah RA sebelum Rasululloh Muhammad pergi ke Masjid!

Lalu Ibu itu bercerita lagi Jika di lain kesempatan beliau yang memarahi istrinya ini. Dengan santainya bersalaman bersentuhan dengan wanita-wanita yang bukan mahromnya. Saat ditegur istrinya Suami itu menjawab ringan. ini sudah menjadi menjadi kebiasaan. Gak enak juga kalau terlalu kaku.

Allohu Akbar! Subahanalloh Ustadz itu bingung apa yang harus dijelaskan kepada Ibu ini.

Karena sepertinya Ibu ini paham jika kalimat lamastumunnisa (menyentuh perempuan) dalam AlQuran Almaidah : 6 itu adalah berjima atau bersetubuh. bukan bersentuhan biasa.
Kalimat menyentuh di atas dibayan oleh Perbuatan Nabi yang terabadikan dalam sebuah Hadits :

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُقَبِّلُ بَعْضَ أَزْوَاجِهِ ثُمَّ يُصَلِّي وَلَا يَتَوَضَّأُ

Dari Aisyah, sesungguhnya Nabi itu sering mencium salah seorang istri kemudian beliau langsung shalat tanpa mengulang wudhu (HR Nasai no 170 dan dinilai shahih oleh al Albani).

Atau Bahkan kekita Rasululloh sholat sendiri Rasul menyentuh Istrinya yang tengah tertidur :

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كُنْتُ أَنَامُ بَيْنَ يَدَىْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَرِجْلاَىَ فِى قِبْلَتِهِ فَإِذَا سَجَدَ غَمَزَنِى فَقَبَضْتُ رِجْلَىَّ وَإِذَا قَامَ بَسَطْتُهُمَا – قَالَتْ – وَالْبُيُوتُ يَوْمَئِذٍ لَيْسَ فِيهَا مَصَابِيحُ.

Dari Aisyah, Aku tidur melintang di hadapan Rasulullah yang sedang shalat. Kedua kakiku terletak di arah kiblat. Jika beliau hendak bersujud beliau sentuh kakiku sehingga kutarik kedua kakiku. Jika beliau bangkit berdiri kembali kuluruskan kakiku. Aisyah bercerita bahwa pada waktu itu tidak ada lampu di rumah (HR Bukhari no 375 dan Muslim no 272).

Kejadian yang Rasul ajarkan tersebut memberikan pelajaran bagi umatnya jika bersentuhan dengan ISTRI itu tidak membuat batal wudhu. Bahkan dari kejadian ini Rasul mengajarkan untuk membangung Romantisme selalu dengan Istri-istri kita, meski hendak berangkat Sholat ke masjid. Kecup keningnya, bisikan kasih sayang dan teguhkan pengajaran dengan keimanan.

Sebaliknya BERSENTUHAN dengan yang bukan mahrom. baik dalam wudhu atau pun tidak wudhu. keharamannya mutlak. bahkan diancam dengan naraka. Tapi mengapa banyak yang menganggap ini ringan dan biasa saja?

Ancaman itu luar biasa dari Rasululloh :
Dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

لأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ رَجُلٍ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لا تَحِلُّ لَهُ

“Ditusuknya kepala seseorang dengan pasak dari besi, sungguh lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang bukan mahramnya.” (HR. Thobroni dalam Mu’jam Al Kabir 20: 211. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Dalam Kasus kejadian ini terjadi pembalikan kondisi yang luar biasa. Suatu yang sunnah diajarkan Rasul dijauhi dan dimusuhi. Akan tetapi Suatu yang Allloh dan Rasullonya benci dan larang malah dilakukan hanya karena alasan sepele sudah kebiasaan atau tidak enak oleh manusia.
Lalu untuk siapa SYAHADAT kita?

Akhirnya Ustadz itu hanya bisa menyarankan kepada Ibu yang malang ini untuk tetap berdakwah kepada suaminya dengan lemah lembut dan dengan Ilmu. Doakan agar hidayah terus melingkupi keluarga. Karena sehebat apapun ilmu dan dakwah manusia tanpa hidayah tetap tidak akan meberikan apa-apa pun.

Tidak ada komentar

Hikmah dalam kata akan terkenang sepanjang massa. Sertakan Komentar Anda. (Perkataan yang Tidak Sopan Tidak Akan Ditampilkan)

Diberdayakan oleh Blogger.