AGAR TIDAK ADA NAFSU LAGI UNTUK BERBUAT DOSA (LAKUKAN LIMA HAL INI)



Bissmillah....

Jika kita mengingat suatu percakapan Imam Ghazali dengan muridnya. Sang guru bertanya begitu banyak pertanyaan pada muridnya. Salah satunya, apa yang paling besar di dunia ini? Sang murid menjawab banyak hal. Langit, bumi, planet, jagad raya. Namun semua jawaban itu salah. Begitu jawab sang guru. Imam Ghazali pun memberikan jawaban kepada muridnya. Yang paling besar di dunia ini adalah NAFSU.

Ya, betul hawa nafsu kita yang begitu besar. Selalu bergejolak mendorong jiwa dan raga kita untuk selalu berbuat dosa dan maksiat setiap saat. Lagi-lagi, mari kita lihat realitanya. Dosa dan maksiat begitu diobral dan mudah kita jumpai?

Apakah kamu tidak tidak melihat orang-orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhan (mereka) dan Alloh membiarkannya sesat dalam sepengetahuan-Nya.. (QS Yusuf : 23)

Itu sudah menjadi janji Alloh yang nyata kita saksikan. Kebanyakan dari manusia menjadikan hawa nafunya sebagai Tuhannya. Inilah yang dimaksudkan oleh Imam Al Ghazali bahwa yang paling besar di dunia ini adalah hawa nafsu. Sampai-sampai kebanyakan manusia tidak kuasa lagi menahannya dan menjadikannya sebagai Tuhan mereka. Yang akhirnya mereka pun taat dan sangat patuh atas dorongan perintah hawa nafsunya. Yang menjadikan dirinya seorang yang begitu gemar dan akrab dengan dosa-dosa.
.....انّ النّفس لامّارة بالسّؤ الّا ما رحم ربّى ....

Sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan (dosa) kecuali nafsu yang diberi rahkmat oleh Alloh. (QS Yusuf : 23)

Karena begitulah hakikatnya sebuah nafsu. Akan selalu mendorong dan mengajak manusia kepada dosa dan kemaksiatan. Dan hanya sedikit saja nafsu yang dirahmati. Seperti nafsu yang dimiliki oleh  Nabi Yusuf As. Yang akhirnya dengan nafsu itu mengantarkan manusia kepada kebaikan dan kejayaan dunia akhirat. Seperti akhir kisah nabi Yusuf As yang menjadi penguasa mesir, dan sudah tentu berjaya di akhirat dengan mendapatkan surganya.

Mengapa Nabi Yusuf selamat dari nafsunya yang begitu besar? Tak lain karena Nabi Yusuf begitu besar iman dan takutnya kepada Alloh. Hingga nafsu yang besar, seketika berubah menjadi kecil dan mampu ia taklukan. Begitulah kwalitas para nabi dan Rasul dengan keimanannya yang tidak perlu diragukan lagi.

Lalu bagaimana dengan kita? Yang lemah imannya. Yang faqir ilmunya. Yang hidup diakhir zaman, yang terpajang segala jenis maksiat di hadapan kita. Mampukah kita menaklukan nafsu itu? Mampukah kita membuat nafsu yang begitu besar itu menjadi sangat kecil. Dan tak lagi berdaya membujuk kita dari segala perbuatan dosa.

Mungkin kita bisa melakukan itu semua. Dengan melakukan apa yang pernah dinasihatkan oleh seorang yang teramat keshalehannya. Dialah Ibrahim bin Adham. Dalam sebuah riwayat Ibrahim bin Adham pernah ditanya oleh seorang pemuda yang begiu gemar dengan perbuatan dosa. Segala macam dosa ia pernah cicipi. Setiap kali pemuda itu hendak bertaubat, namun setiap kali itu pula ia melakukan kembali dosa-dosa yang yang sudah dia lakukan.

Ibrahim bin Adham pun menasihatkan lima perkara kepada pemuda itu AGAR TIDAK ADA NAFSU LAGI UNTUK BERBUAT DOSA.

Nasihat Pertama 

أما الأولى : فإذا أردت أن تعصي الله عز وجل، فلا تأكل رزقه

Yang pertama : Jika kamu mempunyai keingin berbuat dosa (lakukanlah), namun jangan engkau pernah makan lagi rizki-Nya.

فقال الرجل: فمن أين آكل؟، وكل ما في الأرض من رزقه ؟

Kemudian pemuda itu pun menjawab. Wahai Ibrahim bin Adham, lalu dari mana lagi Aku harus makan? Bukankah semua yang ada di bumi ini milik Alloh?

فقال إبراهيم : يا هذا أفيحسن أن تأكل رزق الله وتعصيه

Maka Ibrahim bin Adham berkata : Kalau begitu, apakah bagus (tidak merasa malu) Engkau memakan rizki-Nya Alloh, dan Engkau masih bermaksiat kepada-Nya!

Nasihat Kedua

قال " إبراهيم": يا هذا إذا أردت أن تعصيه فلا تسكن شيئاً من بلاده!!

Ibrahim bin Adham berkata : Kalau begitu, jika kamu hendak berbuat maksiat kepada-Nya. Maka janganlan tinggal di bumi Alloh!

فقال الرجل: هذه أعظم من الأولى ، يا أبا إسحاق: إذا كان المشرق والمغرب وما بينهما له تعالى، فأين أسكن؟

Kemudian pemuda itu pun kembali menjawab. Wahai Ibrahim bin Adham ini lebih berat lagi dari yang pertama. Jika Timur dan Barat dan apa yang ada di antara keduanya adalah milik Alloh. Lalu dimana lagi Aku haru tinggal wahai Ibrahim bin Adham?

قال: يا هذا أفيحسن أن تأكل رزقه وتسكن بلاده ثم تعصبه

Ibrahim bin Adham menjawab : Kalau begitu, apaka bagus (tidak merasa malu) Engkau memakan rizki-Nya dan tinggal (hidup) di bumi-Nya, kemudian Engkau bermaksiat kepada-Nya?


Nasihat Ketiga

قال" إبراهيم" : إذا أردت أن تعصيه وأنت تأكل رزقه وتسكن بلاده، فانظر موضعاً لا يراك فيه مبارزاً له فاعصه فيه !

Ibrahim bin Adham berkata : Apabila Engkau ingin berbuat maksiat kepada-Nya, dan Engkau masih memakan rizki dari-Nya dan Engkau pun masih tinggal di bumi-Nya. Maka carilah olehmu tempat yang Alloh tidak akan dapat melihatmu dengan jelas, maka lakukanlah maksiat di sana!

قال: يا إبراهيم!! كيف هذا وهو مطلع على ما في السرائر والضمائر ؟

Pemuda itu pun berkata : “Wahai Ibrahim bin Adham! Bagaimana Engkau ini Dia Alloh akan selalu melihat dan mengawasi kepada apa yang disembunyikan dan yang ditampakan.

قال إبراهيم : يا هذا أفيحسن أن تأكل من رزقه وتسكن في بلاده وتعصيه وهو يراك ويرى ما تجاهره به ؟

Ibrahim bin Adham pun menjawab : Kalau begitu, apakah bagus (tidak malu) Engkau makan dari rizki-Nya dan Engkau tinggal di bumi-Nya. Dan Engkau masih saja berbuat maksiat kepada-Nya, padahal dia melihatmu dengan jelas?

Nasihat Keempat

قال " إبراهيم " : إذا جاءك ملك الموت ليقبض روحك ، فقل له: أخرني حتى أتوب توبة نصوحاً وأعمل لله عملاً صالحاً


Berkata Ibrahim bin Adham : Apabila datang kepadamu malaikat maut untuk mencabut nyawamu. Maka katakanlah kepadanya : Akhirkan dan tunda dulu (mencabut nyawaku) sehingga aku taubatan nashuha terlebih dahulu, dan mengerjakan amalan-amalan sholeh dahulu.

فقال الرجل: لا يقبل مني ولا يؤخرني

Pemuda itu pun langsung menjawab : Tidak akan dikabulkan permintaanku itu. Dan tidak akan bisa ditunda (kematianku).

فقال إبراهيم :يا هذا !! فأنت إذا لم تقدر أن تدفع عنك الموت لتتوب ، وتعلم أنه إذا جاء لم يكن له تأخير، فكيف ترجو وجه الخلاص

Maka Ibrahim bin Adham berkata : Engkau ini! Maka apabila Engkau tidak bisa mengatur malaikat maut yang datang padamu agar Engkau bisa bertaubat dahulu. Dan Engkau pun tahu apabila dia telah datang tidak bisa ditunda-tunda lagi. Maka bagaimana Engkau akan menyelesaikanya (segela dosa dan maksiat)

Nasihat Kelima

قال " إبراهيم" : إذا جاءتك الزبانية يوم القيامة ليأخذوك إلى النار، فلا تذهب معهم!

Ibrahim bin Adham berkata (lagi) :  apabila datang kepadamu Zabaniyah (penjaga neraka) di hari kiamat dan hendak memasukanmu ke dalam neraka. Maka janganlah engkau pergi (ikut) dengannya.

قال الرجل: إنهم لا يدعونني ولا يقبلون مني!

Pemuda itu pun menjawab : Waduuh! Zabaniyah tidak akan menurutiku dan tidak akan mengambulkan apa yang aku inginkan!
فقال إبراهيم: فكيف ترجو النجاة إذن؟

Ibrahim bin Adham pun menjawab : Lalu bagaimana bisa menyelesaikan (segala maksiat dan dosa-dosa) jika kamu mengatakan permintaanmu kepada Zabaniyah (dan dia menolaknya)?

فقال الرجل: يا إبراهيم " حسبي حسبي !!

Pemuda itu pun akhirnya berkata : Cukup bagiku… cukup bagiku… (semua nasihatmu) wahai Ibrahim bin adham! Aku akan memohon ampun kepada Alloh dan Aku akan bertaubat kepadanya!

أنا أستغفر الله وأتوب إليه!! ثم لزمه وشاركة في العبادة والاجتهاد في الطاعات، حتى فرق بينهما الموت

Kemudian sejak saat itu pula dia melazimkan dan senantiasa beribadah dengan penuh kesungguhan dalam ketaatan kepada Alloh. Sampai dikabarkan ia meninggal.

Begitulah lima perkara yang dinasihatkan oleh Ibrahim bin Adham untuk kita semua agar kita semua tidak berani dan tidak lagi keinginan berbuat dosa dan maksiat kepada Alloh.

Semoga kita senanti Alloh selamatkan dari segala bentuk dosa dan maksiat yang saat ini semakin merajarela.
Alluhu muts'an.. walhamdulillah

Tidak ada komentar

Hikmah dalam kata akan terkenang sepanjang massa. Sertakan Komentar Anda. (Perkataan yang Tidak Sopan Tidak Akan Ditampilkan)

Diberdayakan oleh Blogger.