RESENSI NOVEL LASTI TSANIYAH (OLEH PEMBACA)


(Sang Zundi Khatulistiwa. Alhamdulillah puji syukur ke khadirat Allah Azza wa jala atas segala nikmat dan karuniaNya. Karena pada kesempatan kali ini merupakan kesempatan yang langka dan untuk pertama kalinnya. Apa yang untuk pertama kalinya itu? Inilah dia. Setalah saya mengumumkan kepada semua pembaca novel Lasti Tsaniyah bahwa saya akan mempostingkan resensi mereka pada blog saya ini. Dan sudah ada beberapa yang telah mengirimkanya ke email atau FB saya.


Inilah pembaca pertama yang mengirimkan resensi dari novel Lasti Tsaniyah. Resensi ini datang dari seorang santri asal bandung bernama Haifa. Berikut adalah data singkat peresensi Novel Lasti Tsaniyah kali ini.

Nama : Haifa Nisfia Ilmi
Domisili : Bandung
Sekolah : Pesantren Persis Ciganitri.

Berikut ada hasil resensi beliau.
Judul : Lasti Tsaniyah (Enkau Tiada Duanya).
Penulis : Sang Zundi Khatulistiwa
Penerbit :Pustak Rama
Tebal : 248 + VIII
Harga : Rp. 30.000,-

“..Mungkin, inilah salah satu alasan bapak memaksaku masuk ke pesantren ini. Sebagai anak bapak dan ibu yang sangat taat terhadap agama dan sering menjadi rujukan banyak orang, memang memalukan kalau aku tidak memiliki pengetahuan agama yang memadai, apalagi membaca Al-Qur’an saja belum lancar-lancar”

Potongan paragraf di atas mewakilkan mayoritas alasan seorang anak bersedia untuk disekolahkan ke sebuah pesantren. Adalah karena alasan orang tua mereka, meskipun ada beberapa yang memiliki kesadaran sendiri , tapi mungkin jumlahnya sangat sedikit. Karna kebanyakan dari mereka para remaja adalah “membebek” kepada teman-teman mereka.

Dan hal itu pun yang dialami oleh seorang remaja putri bernama Lasti Tsaniyah, yang hendak disekolahkan ke sebuah pondok pesantren oleh orang tuanya. Tapi layaknya seseorang yang dipaksa untuk melakukan sesuatu yang tidak disukainya, Lasti pada awal perjalanan mengenal sekolah barunya, terus saja mencari-cari keburukan dari tempat yang akan menjadi sarana untuknya menimba ilmu itu, tepatnya mungkin mencari-cari alasan untuk membenarkan “ketidaksetujuannya” atas keputusan orang tuanya.

Tapi meski bagaimanapun keputusan orang tua Lasti sudah bulat, dan Lasti harus tetap siap menjalani hari-harinya di pondok tersebut. Pada awal perjalanan di sekolah barunya, ia di pertemukan dengan seorang teladan bernama Syifa Munzila, tokoh yang menjadi salah satu motifator bagi Lasti. Syifa Munzila adalah kakak kelas Lasti yang mempunyai akhlak yang baik dan juga cerdas.

Sebagaimana umumnya para remaja normal yang mempunyai tugas-tugas perkembangan, pada novel ini pun di ceritakan bahwa Lasti mulai menyukai seorang laki-laki , Azhar Mubina namanya. Namun perjalanan menggapai cinta Lasti tidaklah berjalan sesuai dengan keinginan. Karna Lasti tinggal disekitar tempat yang mempunyai aturan tertentu tentang merealisasikan “rasa cinta”, dan rasa cinta itu pun menjadi salah satu ujian untuk Lasti, ujian seberapa kuat Lasti dapat menjaga cintanya agar tidak menjadi bumerang untuk dirinya sendiri.

Cobaan dan fitnah pun menderanya dalam perjalanan menjaga hati, menjaga diri, dan menjaga cintanya. Bahkan Lasti harus menghadapi perihnya “kehilangan” cintanya yang telah sekian lama ia perjuangkan.

Penulis berhasil menjabarkan bagaimana pergolakan hidup seorang anak remaja putri yang tinggal di lingkungan pondok, yang juga sedang membentuk jati dirinya. Menceritakan bagaimana sistem pendidikan sebuah pesantren yang membatasi pergaulan antara santri laki-laki dengan santri perempuan. Agar mereka terfasilitasi untuk menjadi insan yang berakhlak mulia, dan dapat menjaga diri dalam pergaulan.

Pada novel ini pun dijelaskan, bahwa cinta adalah fitrah yang Allah titipkan pada setiap insan, dan cinta bukanlah hal yang harus selalu direalisasikan dengan cara “binatang” yang tidak memiliki akal. Tapi justru cinta adalah bagaimana saat kita menjaga hati agar tetap suci dan yakin akan segala ketetapan-Nya.
(Sorry kalo resensinya jelek,,hehehe).

Nah, seperti itulah Resensi dari Haifa. Kepada Haifa saya haturkan Alhamdulillah. dan untuk temen-temen yang lainnya saya tunggu yah Resensinya, insya Allah nanti akan saya postingkan juga di blog ini.
Alhamdilillah.

Tidak ada komentar

Hikmah dalam kata akan terkenang sepanjang massa. Sertakan Komentar Anda. (Perkataan yang Tidak Sopan Tidak Akan Ditampilkan)

Diberdayakan oleh Blogger.