TERSADAR SEBELUM FAJAR

Cerpen : Khofif Ilal Mustaqiem

Deru suara mesin mobil kami, seperti membelah sepinya malam yang hanya dihiasi bintang terang dan nyanyian jangkrik bergantian dengan senandung katak dimusim penghujan. Jaket yang kami kenakan nampaknya tak mampu membendung hawa dingin udara dikaki bukit Sadakeling. Desa kecil diujung utara Garut ! perjalanan menembus tebalnya kabut terasa sangat melelahkan, melewati perkampungan yang tampak seperti tanpa tuan. Sepi tak berpenghuni, hanya semilir angin yang bersuara saat menyapa ujung daun milik pohon bambu. Benar-benar liburan yang penuh pengorbanan, Liburan yang masih dipertanyakan persetujuannya dari masing-masing anggota geng, terutama aku yang sangat tidak setuju.
“Arr rumah loe dimana sih?” meski badan mengigil kedinginan aku masih mampu melontarkan kata dengan nada cukup keras.
”Setelah ujung jalan hutan, akan terlihat kampungku.” Jawab Arriem singkat, yang sudah bosan kami introgasi sejak berangkat dari Jakarta.
Harapan untuk segera melepas rasa letih kami rasakan saat remang sinar lampu gantung berwarna kuning yang menembus sekat rimbun pepohonan.
”Nah, itu kampungku.” tiba-tiba Arriem terdengar kembali bersuara.
aku, Reza, Dilla, Lembu dan Adam tertawa melihat kelakuan sipemilik kampung tanpa tuan ini. Saat fajar masih diperistirhatannya kami berenam pun sudah sampai dirumah Arriem seiring habisnya gelak tawa dan sederet kata ejekan untuk menggoda Arriem.
*****


“Gilla… Arr rumah loe lebih jauh dari kutub utara Yaa.” Lembu asal jeplak aja meledek Arriem. Bersambut dengan hadirnya kembali gelak tawa geng kami.
”Yaa… Ibu sengaja memilih tinggal disini, sebab ibu ingin pewaris nasab ibu hidup dengan memahami islam bukan sekedar agama.” Sambil menyodorkan beberapa jenis makanan ringan dan minuman penghangat tubuh. Ibunda Arriem menjawab pertanyaan Lembu, yang sebenarnya mengejek Arriem. Sebetulnya kami kurang faham maksud jawaban Ibunda Arriem tadi yang terlalu filosofis, tapi mungkin maksudnya supaya anak-anaknya hidup dengan cara yang benar, tidak seperti kami anak-anak kota, telah salah memilih gaya hidup. Aku coba meraba-raba jawaban sekenanya.
“Cara hidup mereka harus sejalan dengan aturan baku syariat islam.” Ibunda Arriem menjelaskan tanpa basa-basi. Sementara kami hanya bisa membalasnya dengan senyuman yang tak jelas maksud dan artinya.
“Arriem, Ibu mau ngelanjutin hanca Ibu, ajak teman-temannya isrtrahat.” Setelah selesai menghidangkan makanan ibunda Arriem pamit.
Beberapa anggota geng kami mulai menyelam dalam tidur lelap mereka, tinggal aku dan Arriem yang masih terjaga. Aku masih merenungkan barisan kata singkat Ibunda Arriem yang telah mengukirkan makna yang mendalam. Sementara Ariem nampak seperti sedang melepas rindu bersama adik-adiknya yang masih kecil dan belia sambil membagikan oleh-oleh pesanan mereka. Aku tak ingin melewatkan pagi ini dengan hampa, aku lebih memilih menikmati udara yang sejuk untuk dihirup. Lekat mataku tak bisa lepas sedikit pun untuk terus menyaksikan peristiwa yang membuat hati yang sekian lama tandus dan gersang ini terkagum-kagum. Aku kagum melihat rumah Arriem, meski tekstur bangunan sederhana namun terasa sangat nyaman dan damai. Suasana yang memberikan rasa tentram dan ketenangan dalam hati, keularga Arriem sangat jauh berbeda dengan suasana rumahku yang selalu ribut gara-gara masalah kecil.
“Woi, Njung kenapa Loe?” Arriem seperti keheran melihatku.
“Kenapa apanya maksud Loe Arr?” Aku balik bertanya untuk ngeles dari Arriem yang mungkin saja tahu sesuatu terjadi pada diri dan jiwaku.
“Maksud gue kenapa loe nangis?” Arriem memperjelas arah pertenyaannya, sekaligus menjawab kebenaran dugaanku.
“Waduuh, masa Tanjung ketua geng HIMMEUNX nangis. Untung aja gue bukan termasuk angotanya, kalo nggak wah apa kata dunia.” Dengan nada meledek Arriem sepertinya cukup puas mebalas perlakuan geng HIMMEUNX, pada saat baru tiba tadi..memang kelakuan anggota dan nama geng HIMMEUNX berbanding lurus.
“Gilla loe… Siapa yang nangis Arr, gue cuma kelilipan abu dari langit-langit kallie.” Sambil menunjuk keatas, aku coba mengkambing hitamkan langit-langit rumah Arriem yang terbuat dari anyaman bambu.
“by The way, ade-ade loe jam segini ko belum pada tidur?” selain mengalihkan pembicaraan, aku mencoba mengobati rasa heranku melihat anggota keluarga Arriem yang sudah terbangun, sementara waktu masih menunjukan jam 2:30 pagi.
“pertanyaan loe salah Njung.” Entah apa maksud pertanyaan Arriem, dengan senyum yang tak kupahami artinya.
“Njung, keluarga gue semua dah biasa bangun jam segini”. Arriem melanjukan perkatanayaan. Keningku mengerut heran mendengar jawaban Arriem.
“Kebiasaan seperti ini sudah ada semenjak bokap gue masih hidup, Njung.” Kenang Arriem.
Nampaknya Arriem cukup cerdik untuk membaca mimik mukaku yang keheranan.
“kami semua sudah terbangun sejak jam 2:00 pagi, semuanya harus bangun untuk menunaikan tugasnya masing-masing.” lanjutnya.
“Apa nggak kasian Arr? Merekakan ada yang masih kecil.” selaku singkat. Arriem hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. Aku artikan, jawaban Arriem tidak rasa kasihan pada mereka.
“Jadi kalo di desa anak-anak kecil udah kerja dari pagi buta ya Arr? Apa nggak termasuk peng-eksploitasian anak.” aku memojokan Arriem, untuk mengusung perlindungan anak dan mengecam eksploitasi anak yang marak belakangan ini.
“Keluarga gue bangun bukan buat kerja, Njung.” sambil mengambil Al-Quran kecil yang selalu ia bawa Arriem menyanggah prasangkaku.
“Kebiasaan ini yang membuat gue dan dua teteh gue bisa sukses.” Sambil terus membuka lembar Al-Quran Arriem sedikit promosi. Memang semua mengakui keluarga Arriem memiliki kelebihan di bidang intelektual. Arriem adalah calon mahasiswa Harvard Univercity, sementara kedua tetehnya melanjutkan study di Al-Azahar Mesir. Jika dilihat dari segi ekonomi sepertinya hal yang mustahil bisa seperti itu.
“Kami bangun untuk meghidupkah sunah Rasulullah Muhammad yang telah banyak dilupakan umatnya.” Jawaban Arriem yang tegas dan pasti, menambah kekagumanku pada keluarganya. Walaupun tidak begitu mengerti, tapi aku semakin tahu betapa taatnya keluarga Arriem pada nilai syariat.
“Andai saja aku dan kebanyakan penduduk negeri ini, hidup seperti keluarga Arriem, tentu hidup terasa nyaman seperti saat aku dirumah Arriem.” Lamunan singkat yang ku yang rindu hidup tentram dan bahagia.
“Coba kamu baca ayat ini.” Arriem menyodorkan Al-Quran yang dipegangnya dan memintaku untuk membacanya.
“dan pada sebahagian malam hari, shalat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan tuhanmu mengangkat kamu ketempat yang terpuji.” Surat Al-Isra ayat 79 yang kubaca memberikan jawaban dan tak mukin aku bantah atau aku otak-atik hanya untuk sekedar berdebat mengadu argumen. Sebab Arriem jika menyangkut ketetapan Al-Quran ia tak ada kata kompromi, sudah bisa kutebak ia pasti bilang,
“kami mendengar dan kami taat.” Jika ia didebat tentang pelaksanaan hukum Al-Quran. Meskipun tadinya aku sangat tak mengenal agamaku sendiri, bahkan hanya untuk sekedar tata cara wudhu saja aku tak mengerti. Kini aku mulai menerima keterangan Al-Quran, tepat satu bulan yang lalu setelah aku mengenal Arriem.
“Alhamdulillah Njung, janji Allah selalu benar, amalan yang kami perbuat sekecil apapun Allah balas dengan harga yang tak terkira. Allah telah mengangkat kami ke derajat yang lebih baik.” Arriem merendah. Padahal aku tahu, tak banyak orang yang terjaga di sepertiga malam terakhir untuk bermuajahah mendekatkan diri pada tuhan mereka. Namun keluarga Arriem sangat kompak dan taat, usia dan keadaan tak menjadi alasan bagi mereka. Terbukti, meski usia sikecil adiknya Arriem baru berusia 10 tahun atau ibunda Arriem yang memasuki kepala lima, dibalut udara yang membekukan peredaran darah, namun tak menghalangi mereka untuk ikut serta ambil bagian dalam rutinitas mulia ini. Sayup-sayup terdengar lantunan samar bacaaan ayat suci Al-Quran dari arah tiap kamar dan udara sejuk melengkapi suasana yang semakin menenangkan jiwa.
Kusingkap tirai penghalang dipintu kamar, aku ingin mendengar merdunya lantunan ayat-ayat Al-Quran dari kedekatan. Sikecil begitu khusunya melafalkan huruf-huruf tanpa melihat Al-Quran lagi. Sikecil nan suci, kini telah hafizh sekurangnya 10 juz. Informasi itulah yang kudapat dari sang kakak Arriem yang telah lebih dulu hafizh 25 juz. Semoga Arriem mampu segera mewujudkan impiannya untuk segara menyusul kedua tetehnya yang telah khatam 30 juz. Mereka menjadi mulia dengan tuntunan syariat yang haqq.
Sejak lama aku menelisik kiat sukses Arriem dan keluarganya.
“Apa yang mereka lakukan sampai mereka dengan mudah mengafal Quran, dan memiliki pemikiran yang cerdas?” Kini aku mendapatkan jawaban yang kucari, meski Arriem tak menerangkannya dengan barisan kata-katanya yang penuh makna.
*****
Ternyata begitu banyak waktu malamku yang terbuang percuma, untuk sekedar memuaskan raga di balik selimut yang tebal.
“Aku telah lalai di sepertiga malam terakhir-Mu, bahkan kadang tega kutukar dengan sederat dosa dan maksiat yang mengundang murka-Mu.” Kata-kata yang entah dari mana asalnya, terus bergumam dalam hatiku.
“Yaa Allah, mengapa tak Engkau lahirkan aku, ditengah-tengah keluarga yang menghambakan diri padamu, mengapa Engkau hidupkan aku beserta keluarga yang menuhankan hawa nafsu mereka.” Gemuruh penyesalanku menyalahkan takdir, semakin menggema sedalam lubuk tempat keimanan bersemayam.
Nyaring ringtoon SMS dari Hpku mengisyaratkan aku harus cepat-cepat menenangkanya untuk segera membacanya.
“3 SMS baru dari Arriem.” Itulah yang terbaca dilayar Hpku. Mata lebam karena derai air mata, mencari keberadaan sang pengirim SMS.
“Apa maksud Arriem, pake acara SMS sebanyak ini segala”. Gumamku keheranan, sambil menekan tombol OK, untuk segera membacanya.
“Ini perkataan Rasulmu empat belas Abad silam : ‘Setiap anak adam pasti memilki kesalahan, dan sebaik-baik orang yang punya kesalahan adalah mereka yang bertaubat.’ Dan ingatlah firman tuhanmu : “Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan dosa karena kejahilan (kebodohan), kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka merekalah yang diterima taubatnya…An-Nisa : 17.’ Janganlah engkau tergolong orang-orang yang tuhanmu sebutkan dalam ayat selanjutnya.” Aku bergegas membongkar tasku untuk mengambil Al-Quran kecil pemberian Arriem sebagai hadiah saat aku bisa berwudhu dan hafal Al-fatihah. Aku ingin segera mengetahui kelanjuatan ayat yang Arriem kirim. Setelah kubaca dan coba kurenungkan untuk kufahami sebelum aku minta penjelasan pada Arriem, sambil kutekan satu per satu tombol huruf di Hpku.
“Thankz… Brow, Lw faham yg terjadi.. n Lw tw apa yg gw butuhin.” SMS balasan terbang bersama rasa syukur nan syahdu, tak henti untuk selalu membahana di angkasa milik Alllah.
***SELESAI***

Bermuwajahah : Bertatap muka, namun lebih diartikan berdekatan yang menjalin komunikasi.
Hanca : Berasal dari bahasa sunda yang berarti meneruskan pekerjaan
rutinitas yang sedang tertunda.
Himeunx : Kata yang dipelesetkan dari kata himeung, berasal dari bahasa sunda yang berati bingung, linglung dan tersesat.
Hafizh : Sebutan untuk penghafal Al-Quran.
Khatam : Tamat atau selesai menghafal Al-Quran.




Tidak ada komentar

Hikmah dalam kata akan terkenang sepanjang massa. Sertakan Komentar Anda. (Perkataan yang Tidak Sopan Tidak Akan Ditampilkan)

Diberdayakan oleh Blogger.